mirzaluqman

penjelajah kopi dan segala ceritanya

Month: October, 2013

Hey Barista! Siapa saja pelanggan anda?

Menurut wikipedia kata pelanggan dalam dunia service dibagi dua, seperti tertera dibawah ini:

In the world of customer service customers are categorized more often into two classes:

An external customer of an organization is a customer who is not directly connected to that organization.
An internal customer is a customer who is directly connected to an organization, and is usually (but not necessarily) internal to the organization. Internal customers are usually stakeholders, employees, or shareholders, but the definition also encompasses creditors and external regulators.

Artinya kita sendiri sebagai barista harus mengetahui siapa saja customer menurut kita baik itu dari luar atau dari dalam disaat sebagian banyak orang belum sadar siapa pelanggan nya sesungguhnya kita sebagai barista harus sudah paham siapa pelanggan kita? Jika melihat definisi diatas menurut wikipedia artinya pelanggan kita tidak hanya orang yang membeli barang atau produk yang kita jual tetapi yang tidak kalah penting nya adalah orang dilingkungan kita bekerja adalah pelanggan kita juga. Dari dulu kita selalu mendengar kata-kata “guest is a king” atau di Indonesiakan bisa diartikan perlakukan tamu sebagai raja, disini kita dituntut untuk bisa menjadi insan yang terbaik dalam melayani pelanggan pada profesi kita. Kita harus bisa membuat pelanggan nya lebih dari puas agar kreasi akan sebuah produk kita akan bernilai juga tidak sia-sia, saya akan lebih membahas perlakuan kita dalam melayani pelanggan internal yang seharusnya akan membuat sebuah usaha kita jauh lebih baik lagi karena dikerjakan secara simultan oleh semua orang yang terlibat di pelayan yang kita berikan.
Pelayanan apa saja sih yang harus kita berikan kepada internal customer? Mungkin kita tidak perlu mikir pusing dan ngejelimet untuk melakukan nya contoh seperti ini, jika satu barista bekerja pada shift pagi dan akan hand over pekerjaannya pada barista shift sore artinya pelanggan si barista pagi adalah si barista sore jadi jika kita ingin memberikan pelayanan yang sempurna alangkah baiknya kita selesaikan semua pekerjaan shift pagi dengan baik agar pelanggan kita yang bekerja di shift sore merasa puas dan tidak kecewa, sederhanakan? . Bisa juga kita ilustrasikan dari owner yang memiliki 5 barista di cafe nya, banyak dari teman saya yang memiliki usaha coffee shop atau cafe mengeluh tentang sulitnya mencari barista setelah salah satu barista nya mengundurkan diri, pelanggan si owner jelas para barista nya pada konteks ini dan pasti owner harus juga melayani pelanggannya dengan baik, jika para pelanggan owner ini (red: barista) sangat puas dengan pelayanannya akan membuat si barista yang saat ini kita sebut pelanggan owner akan merekomendasikan teman, sahabat dan orang yang ia kenal untuk menjadi pelanggan di cafe tersebut artinya owner akan lebih mudah mendapatkan barista yang ingin mereka rekrut. Pelanggan internal ini juga bisa kita kategorikan pelanggan tak ber nyawa yaitu mesin espresso contohnya, setiap barista harus berfikir mesin espresso adalah pelanggan nya karena jika mesin espresso tidak di rawat oleh si barista maka mesin tersebut akan kecewa dan sulit untuk diajak membuat espresso yang baik, contoh sederhana: mesin espresso yang menjadi pelanggan si barista tidak pernah rutin dibersihkan akhirnya kerak timbul pada group head nya lalu si barista menyeduh espresso dan menyuguhkan hasil ekstraksi espresso nya ke pelanggan di kedai atau cafe nya, sebagai konsumen si pelanggan ini kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan yaitu espresso yang smooth, rounded, balance dan flavorful padahal si barista sudah menyeduh dengan tehnik yang sangat konsisten dan baik, kekecewaan konsumen bukan dari produk yang diolah atau tehnik sang barista tetapi karena mesin espresso yang kurang bersih sehingga tidak dapat menghasilkan rasa yang diinginkan pelanggan dan barista. Jika kita gabungkan semua unsur tertulis diatas artinya pelanggan internal dan external memiliki satu keterikatan dengan lainnya dan semua barista harus bisa melayani pelanggan internal atau pun external dengan baik, begitu juga owner yang ingin semua barista nya bekerja dengan baik. Jadi kita sebagai barista harus mengerti bahwa pelayanan yang baik itu bukan hanya ke luar tetapi juga kedalam yang tujuan nya jelas membuat kita sebagai barista akan lebih baik lagi. Pada saat semua elemen bekerja dengan tujuan sama yaitu memberikan pelayanan terbaik untuk sesama pasti akan menjadikan hasil akhir lebih baik lagi.

Advertisements

Merakyatkan Kopi Spesial Indonesia…

Sudah beberapa tahun ini kopi Indonesia bergerak ke arah yang jauh lebih baik, dimana kualitas kopi Arabika maupun Robusta di proses dengan sangat baik yang tentunya menghasilkan rasa yang tidak monoton sebagaimana terjadi pada tahun-tahun lampau. Memang sudah saatnya orang Indonesia mendapatkan kualitas kopi yang lebih baik dari sisi rasa dan juga macam nya, jika kita menoleh sebentar ke masa yang lalu sebut saja 10 tahun lalu kopi Indonesia tidak banyak di jual sebagai varian kopi dari specific daerah geografis nya, kopi indonesia hanya dijual dengan varian Kopi Arabika, Kopi robusta atau juga Kopi campuran dari kedua nya. Pengalaman saya dimasa lalu melihat bapak saya selalu berbelanja kopi ke pasar tradisional jatinegara untuk memilih kopi Arabika dan juga Robusta kesukaannya, dikios tersebut kopi di perjual belikan baik yang masih biji atau sudah digiling di kiosnya, jelas jaman dahulu belum ada yang jual Latina atau Baratza grinder seperti saat ini, jadi pasti nya hampir seluruh pembeli memilih di giling untuk kembali diolah menjadi secangkir kopi nikmat dirumah masing-masing termasuk bapak saya yang selalu dibuatkan kopi oleh ibu saya, kopi tubruk dengan jumlah gula yang sesuai takaran “pas” adalah rasio kopi, air dan gula pada saat itu, tidak perlu ditimbang dengan hario scale atau timbangan high end lainnya hanya mengandalkan sendok teh dan gelas belimbing. Saya pun merasakan setelah masuk ke dunia hitam ini pada awalnya hanya mengandalkan kopi sachet untuk belajar meng indentifikasi perbedaan rasa kopi, bahkan sempat mengkoleksi bungkus kopi dari pabrikan kopi di beberapa kota di Indonesia, sulit menemukan biji kopi yang bisa di olah segar dengan digiling sebelum di seduh terlebih dahulu, kalau pun ada itu adalah kopi dari pabrikan italy ya g jelas mahal dan sebagai mahasiswa tentunya lebih memilih yang terjangkau untuk ngopi, sampai akhirnya saya bisa menemukan kopi biji dengan kualitas yang sangat baik itu pun karena saya sudah bekerja jadi bisa perlahan menyisihkan uang untuk membeli 100gr biji kopi segar Java Jampit dari roaster yang sampai saat ini sangat konsisten dalam hal kualitas kopi yaitu Caswell coffee, seingat saya sekitar 25,000-30,000 per 100gr atau 50,000-60,000 per seperempat kilo nya. Saat itu pula tempat nongkrong ngopi yang menyuguhkan kopi special ya hanya mereka tentunya ataupun jika ada yang lain mungkin luput dari perhatian saya, maklum budget ziarah kopi saya masih minim :), nah jika saya lihat saat ini semua kafe atau tempat ngopi yang mengusung kopi special sudah bisa ditemukan disetiap sudut daerah di jabodetabek mereka membuat pelanggannya bisa memilih kopi-kopi dari negri ini atau pun luar negri, bahkan kopi-kopi yang diroast oleh roaster kenamaan dunia sudah bisa di nikmati dibeberapa kafe baik Jakarta atau Bandung, tinggal pilih lah pokoknya. Namun jauh dilubuk hati saya bertanya apakah kopi specialty saat ini sudah benar menyentuh lapisan yang punya budget ngopi secukupnya, bagi mereka tentunya kopi adalah menu wajib setiap harinya namun apa daya dengan budget seadanya mungkin sebagian besar masyarakat kita masih lebih pede ngopi di warung Indomie yang berkisar 3000-4000 percangkir nya, ironis nya dimana sebagian besar orang sudah banyak melakukan penyebaran informasi kopi tetapi membuat kopi specialty ini malah semakin “mahal” sehingga membuat para pabrikan kopi sachet mendulang rejeki dengan konsep kopi sachet ala cafe dengan membuat varian minuman-minuman di cafe yang dikemas sederhana dan dijuak tidak lebih dari 3000 per sachet, sebut saja varian kopi mocha, cappuccino, latte dan lainnya. Saya pun merasakan dibeberapa kafe harga kopi hitam seduh manual bisa mencapai 65,000 per cangkir, alasan sewa tempat yang mahal bisa diterima sehingga mereka membandrol harga kopi sebegitu mahalnya, namun kenyataan nya kopi-kopi yang dibandrol mahal tersebut disajikan sudah melewati batas kesegaran kopi atau bisa disebut sudah apek, apa pantas di bandrol segitu mahal, disini saja berfikir bahwa dengan menjamur nya kedai kopi diseluruh negri ini tidak diiringi dengan konsep yang merakyat atau bisa disebut membuat kopi hitam specialty bisa mudah terjangkau baik harga ataupun tempatnya dan pastinya kualitas rasa sebagai rujukan nomor satu dalam menjalankan bisnis nya. Teman-teman kita yang masih mahasiswa mungkin banyak yang ingin kebiasaan ngopi ala warung indomie nya dialihkan ke kualitas rasa special dengan harga yang terjangkau atau juga para pegawai yang setiap hari hilir mudik harus ke warung indomie demi mendapatkan secangkir kopi sachet juga punya hak yang sama dengan kita untuk menikmati kopi, ide gila ini berawal dari warung Indomie didepan kantor yang setiap pagi hampir saya kunjungi untuk memenuhi keinginan perut dengan semangkok Indomie dengan beberapa gorengan, hampir seluruh pengunjung warung yang diberi judul cafe 12 jam itu memesan secangkir kopi baik hitam + gula atau kopi sachet ngawur dengan bungkus putihnya :), ditempat tersebut saya coba bermimpi jika warung seperti itu menyuguhkan kopi special yang jika kita ramu biaya bahan bakunya hanya 1400-2000 perak percangkir untuk specialty Arabika dan 800-1000 perak untuk fine robusta dan dijual dengan harga yah 4000 perak mungkin bisa jadi kopi special baik arabika atau robusta akan lebih menjamur kelevel masyarakat yang lebih luas :). Coba ayo kalian pikirkan yah peluang bisnis baru mungkin :).